Minggu, 09 April 2017

KETIDAKADILAN HATI

Bukankah cinta itu harusnya sederhana? Mencinta dan dicinta. Tapi mengapa dalam kisahku semua terasa begitu rumit? Dari teman, aku dan ia dijadikan cinta. Lalu dipaksa mengakhirinya. Dan semua pun berakhir. Ketika ku menemukan yang lain di persimpangan jalan, hari-hariku mulai berganti. Bukan denganmu lagi, bukan dengan tawamu lagi. Hari-hariku mulai mengukir cerita kembali. Dengannya yang kini di sisi. Tapi ternyata semua belum benar-benar berakhir. Hatiku masih sama, hatiku masih dirimu. Rasaku masih milikmu. Aku yang memilih dia di sisi, tapi rasakulah yang memilihmu di hati.
Dia ada di sini. Dia, penggantimu kini di sisiku. Mengembalikan senyum yang sempat pergi. Mengisi hari-hari yang terasa sunyi. Merajut kisah dari benang yang terurai. Menyeka bulir demi bulir di sudut mata. Dengannya aku mulai terbiasa. Dan kupikir aku bahagia. Tapi ternyata semuanya semu. Tak sama dengan yang terlihat mata. Dia memang telah mengembalikan senyumku, tapi tawaku bergantung padamu. Dia memang mengisi hariku, tapi keindahannya ada padamu. Dia memang merajut kisahku, tapi ceritanya masih tentangmu. Dia memang menyeka air mataku, tapi penghilang laraku tetap dirimu. Aku memang mulai terbiasa dengannya, tapi entah mengapa hatiku tetap menolak. Ku pikir aku bahagia, tapi ternyata hatiku terluka. Aku memang memilihnya di sisi, tapi rasaku yang memilihmu tetap di hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar