Bukankah cinta itu harusnya sederhana?
Mencinta dan dicinta. Tapi mengapa dalam kisahku semua terasa begitu rumit?
Dari teman, aku dan ia dijadikan cinta. Lalu dipaksa mengakhirinya. Dan semua
pun berakhir. Ketika ku menemukan yang lain di persimpangan jalan, hari-hariku
mulai berganti. Bukan denganmu lagi, bukan dengan tawamu lagi. Hari-hariku
mulai mengukir cerita kembali. Dengannya yang kini di sisi. Tapi ternyata semua
belum benar-benar berakhir. Hatiku masih sama, hatiku masih dirimu. Rasaku
masih milikmu. Aku yang memilih dia di sisi, tapi rasakulah yang memilihmu di
hati.
Dia ada di sini. Dia, penggantimu kini
di sisiku. Mengembalikan senyum yang sempat pergi. Mengisi hari-hari yang
terasa sunyi. Merajut kisah dari benang yang terurai. Menyeka bulir demi bulir
di sudut mata. Dengannya aku mulai terbiasa. Dan kupikir aku bahagia. Tapi ternyata
semuanya semu. Tak sama dengan yang terlihat mata. Dia memang telah mengembalikan
senyumku, tapi tawaku bergantung padamu. Dia memang mengisi hariku, tapi keindahannya
ada padamu. Dia memang merajut kisahku, tapi ceritanya masih tentangmu. Dia
memang menyeka air mataku, tapi penghilang laraku tetap dirimu. Aku memang
mulai terbiasa dengannya, tapi entah mengapa hatiku tetap menolak. Ku pikir aku
bahagia, tapi ternyata hatiku terluka. Aku memang memilihnya di sisi, tapi
rasaku yang memilihmu tetap di hati.